22 Februari Pesta Tahta St. Petrus

Mat 16:13-19 (22 Februari 2011)
Hari ini Gereja merayakan Pesta Takhta S. Petrus, Rasul. Kata “takhta” jangan diartikan secara sempit sebagai semacam kursi, tempat duduk orang mulia. Memang, kata Latin “cathedra” berarti kursi kemuliaan. Namun, kata ini lebih mengacu kepada wewenang dan kuasa penuh k a s i h dan p e l a y a n a n daripada kepada kursi yang bisa saja diduduki orang yang disebut “mulia”, padahal ia diktator yang dibenci banyak orang.

Yesus pernah bertanya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Lalu, pertanyaan ini dijawab, “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, dan yang lain mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Ketika Yesus bertanya, “Tetapi, apa katamu, siapakah Aku ini?”, Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Yesus ingin sekali supaya murid-murid-Nya jangan sampai memandang diri-Nya sebagai seorang yang sudah lama mati dan hidup kembali. Yesus bukan hantu. Ia memiliki kepribadian dan hidup sendiri. Hidupnya yang sesungguhnya ialah kasih pelayanan. Dan, ternyata, Petrus mengenali Yesus sebagai Mesias, bahkan Anak Allah.

Yesus menyambut pengakuan Petrus itu dengan suka cita. Sebab, mana mungkin Petrus menangkap jatidiri-Nya, kalau ia bukan orang yang sungguh mengasihi Yesus?! Bukankah Tuhan paling royal memberi rahmat-Nya kepada orang yang mencintai-Nya dengan tulus ikhlas, tanpa perhitungan apa pun? Petrus termasuk kelompok orang itu. Maka, ia langsung dicurahi rahmat tambahan yang ada pada Yesus sendiri, yaitu rahmat kasih pelayanan. Sebab apa kata Yesus selanjutnya?

Kata-Nya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Kata-kata ini sangat dalam maknanya, dan justru karena itu menimbulkan banyak pertanyaan dan interpretasi. Bagaimana mengartikannya?

Simon disebut Petrus, artinya ia dijadikan “baru karang” jemaat yang hendak didirikan oleh Yesus. Menjadi “batu karang” searti dengan menjadi “andalan” orang lain, tempat yang tak tergoyahkan, malah tempat yang biarpun diguncang-guncangkan, akan tetap stabil. Mudahkah menjadi “andalan” umat beriman? Semua tahu: Tidak! Petrus dan para penggantinya harus kukuh bagaikan granit. Mereka harus menjadi nomor satu dalam iman.

Selanjutnya Yesus berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga: apa yang kauikat… akan terikat, apa yang kaulepaskan…. akan dilepaskan.” Ini kuasa menjelaskan sabda Allah secara otentik, juga kuasa untuk melarang dan mengizinkan, bahkan kuasa untuk menerima maupun mengucilkan orang dari komunitas iman Gereja. Jika tugas utama Petrus dan para penggantinya ialah mengajarkan yang benar dalam bidang iman, maka dengan sendirinya mereka memiliki pula kuasa untuk menyatakan apakah orang tertentu termasuk atau tidak termasuk Gereja.

Tentu saja, kuasa Petrus bukan kuasa kepala negara yang sering menyimpang dari kebenaran. Kuasa Yesus, maupun setiap pengikut-Nya, terutama para wakil-wakil-Nya di bumi ini ialah kuasa kasih dan pelayanan. Orang yang diberi kuasa kasih, harus siap mengorbankan nyawanya demi sesama. Ini kuasa pengabdian penuh iman dan kasih yang menghasilkan k e s a t u a n dan p e r s a t u an. Dunia selalu membenci kesatuan. Sebab banyak orang terus menerus mau menonjolkan diri dan menggeser atau malah membinasakan orang yang benar. Kuasa para pengganti paus adalah kuasa yang selalu mempersatukan dan mempertahankan kesatuan dan persatuan.

Kata-kata yang diucapkan oleh Yesus kepada Petrus adalah kata Tuhan sendiri. Dan, Tuhan itu tetap h i d u p. Maka Ia tetap bersabda. Dan arti sabda itu bisa saja, bahkan harus selalu diartikan secara baru, sesuai dengan situasi manusia. Justru itulah kelebihan sabda Tuhan dalam Kitab Suci. Sabda itu memang sudah tertulis, tetapi sabda itu harus terus dihidupkan kembali dan dicari maknanya yang terdalam. Kalau tidak, maka sabda itu bisa saja dipakai untuk memecah-belahkan. Padahal sabda itu diberi agar seluruh dunia masuk jaring kasih sejati. Apa yang selalu dinantikan Allah dari manusia? Supaya semua orang menjadi anak-anak-Nya dan sekeluarga satu sama lain. Kalau itu tidak terjadi, maka manusia gagal mencintai dan melayani.

* * * * *
Bunda Maria, engkau kecintaan putramu Yesus. Kami mohon, sadarkanlah kami bahwa tidak ada yang lebih indah dari pada kasih yang melayani, bahkan yang melayani sampai akhir hayat. Sebab kasih yang melayani sewaktu-waktu saja bukan kasih pelayanan melainkan kasih pertunjukan. Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, Maria!

One Response to 22 Februari Pesta Tahta St. Petrus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: